Friday, 1 November 2013

Review Film

I also like to write, this is one of my review film that I made, I joined a competition about reviewing films but unfortunately I didn't win, maybe next time :D. so, i decided to post it in my blog, hope you'll like it Folks (^-^)


REVIEW FILM SAPUTANGAN FANG YIN

Judul  Film           :  Sapu Tangan Fang Yin
Sutradara              :  Hanung Bramantyo
Sebuah film yang mengangkat tentang diskriminasi ditengah berkobarnya semangat perubahan yang sekaligus merupakan tragedi besar di pertengahan Mei 1998.
Sapu tangan Fang Yin, sebuah film musikalisasi puisi essai dari Denny JA dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo membuka lebar-lebar mata kita tentang sisi lain dari Reformasi. Bercerita tentang seorang gadis keturunan Tionghoa yang menjadi korban perkosaan pada tragedi Mei 1998, Ia dan keluarganya pindah ke Amerika untuk menghilangkan rasa traumanya terhadap kekerasan yang Ia alami. Kebenciannya akan ibu pertiwi bahkan sempat mendorongnya untuk mengubah kewarganegaraan menjadi warga Amerika. Ia memandang Amerika sebagai sebuah negeri yang cocok baginya, negeri yang menjunjung tinggi kebebasan.
Berbagai bujukan telah dilakukan ayahandanya agar Fang Yin tetap menjadi warga negara Indonesia dan agar Ia kembali pulang, namun Ia masih tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Setelah membaca berbagai buku filosofi dan mencari tahu informasi tentang keadaan Indonesia, Fang Yin merasakan sebuah kerinduan akan tanah airnya, tanah tempatnya dilahirkan. Film ini juga memuat sebuah kisah cinta antara Fang Yin (Leony) dan Albert Kho (Reza Nagin) yang sederhana namun sarat makna.
Film yang diakhiri dengan adegan dimana Fang Yin membakar sapu tangan pemberian kekasihnya, Albert Kho ini menyiratkan Fang Yin yang telah menang melawan masa lalunya dan hendak beranjak ke hari esok, Ia berdiri dibawah kibaran sang merah putih sebagai tanda kesetiannya pada Ibu pertiwi dan harapan bahwa negeri ini akan menjadi sebuah negeri yang belajar dari masa lalunya dan melangkah pasti menuju hari masa depan tanpa ragu seperti dirinya.
Adegan demi adegan diulas rapi ditambah sisipan-sisipan pembacaan puisi essai karya Denny JA yang semakin menambah kesan di hati penonton, membuat penonton lebih menghayati apa yang sedang disajikan di depan mata. Pada awalnya, film ini terkesan memiliki alur yang cepat dan terseret-seret karena dalam sekian menit penonton disuguhi adegan brutal tragedi Mei 1998 sekaligus peristiwa yang menjadi titik tolak dalam film ini yaitu permerkosaan Fang Yin.
Setelah itu mendadak film seperti senyap, kehilangan suasana yang beberapa menit lalu hiruk pikuk, seakan ikut menangisi penderitaan Fang Yin. Perubahan suasana yang begitu drastis ini benar-benar merupakan sesuatu yang baru bagi saya sebagai penonton yang tidak terbiasa dengan hal ini, trauma Fang Yin digambarkan dengan baik dan cukup realistis sehingga penonton juga ikut merasakan betapa menyakitkannya penderitaan Fang Yin.
Kisah cinta Fang Yin bisa dibilang sarat makna karena hanya ditunjukkan lewat beberapa adegan-adegan sederhana saja tetapi Fang Yin sendiri digambarkan kehilangan sangat Albert dan sempat iri/cemburu kepada Rina.
Film ini menyadarkan kita, dibalik sebuah peristiwa bersejarah yang membawa sebuah perubahan besar pada bangsa kita tersimpan beribu-ribu luka pilu yang masih membekas di hati orang-orang yang mengalaminya. Fang Yin adalah salah satu dari para korban itu, namun masih ada beribu-ribu korban lain yang merasakan penderitaan dari tragedi 1998, mereka yang menuntut dan menunggu keadilan yang tak kunjung datang.
Film ini juga mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam masa lalu, seperti Fang Yin, seseorang yang pernah dikecewakan namun tetap setia dan rindu untuk pulang kembali ke tanah air. Hal ini sangat menyentuh, mengingat toleransi tinggi dan keterbukaan pikiran seseorang untuk menerima apa yang terjadi dan memulai sesuatu yang baru.
Menurut saya film ini adalah salah satu film yang patut untuk ditonton. Film ini banyak mengangkat nilai-nilai dan moral bangsa Indonesia yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk membuang jauh-jauh diskriminasi di Indonesia. Sebuah pengingat akan masa lalu kelam bangsa kita yang mempunyai dua sisi bertolak belakang.

No comments:

Post a Comment