REVIEW FILM SAPUTANGAN FANG YIN
Judul
Film : Sapu
Tangan Fang Yin
Sutradara : Hanung Bramantyo
Sebuah film yang mengangkat tentang diskriminasi ditengah
berkobarnya semangat perubahan yang sekaligus merupakan tragedi besar di pertengahan
Mei 1998.
Sapu tangan Fang Yin, sebuah film musikalisasi puisi
essai dari Denny JA dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo membuka lebar-lebar
mata kita tentang sisi lain dari Reformasi. Bercerita tentang seorang gadis
keturunan Tionghoa yang menjadi korban perkosaan pada tragedi Mei 1998, Ia dan
keluarganya pindah ke Amerika untuk menghilangkan rasa traumanya terhadap
kekerasan yang Ia alami. Kebenciannya akan ibu pertiwi bahkan sempat
mendorongnya untuk mengubah kewarganegaraan menjadi warga Amerika. Ia memandang
Amerika sebagai sebuah negeri yang cocok baginya, negeri yang menjunjung tinggi
kebebasan.
Berbagai bujukan telah dilakukan ayahandanya agar Fang
Yin tetap menjadi warga negara Indonesia dan agar Ia kembali pulang, namun Ia
masih tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Setelah membaca berbagai buku
filosofi dan mencari tahu informasi tentang keadaan Indonesia, Fang Yin
merasakan sebuah kerinduan akan tanah airnya, tanah tempatnya dilahirkan. Film
ini juga memuat sebuah kisah cinta antara Fang Yin (Leony) dan Albert Kho (Reza
Nagin) yang sederhana namun sarat makna.
Film yang diakhiri dengan adegan dimana Fang Yin membakar
sapu tangan pemberian kekasihnya, Albert Kho ini menyiratkan Fang Yin yang
telah menang melawan masa lalunya dan hendak beranjak ke hari esok, Ia berdiri
dibawah kibaran sang merah putih sebagai tanda kesetiannya pada Ibu pertiwi dan
harapan bahwa negeri ini akan menjadi sebuah negeri yang belajar dari masa
lalunya dan melangkah pasti menuju hari masa depan tanpa ragu seperti dirinya.
Adegan demi adegan diulas rapi ditambah sisipan-sisipan
pembacaan puisi essai karya Denny JA yang semakin menambah kesan di hati
penonton, membuat penonton lebih menghayati apa yang sedang disajikan di depan
mata. Pada awalnya, film ini terkesan memiliki alur yang cepat dan
terseret-seret karena dalam sekian menit penonton disuguhi adegan brutal
tragedi Mei 1998 sekaligus peristiwa yang menjadi titik tolak dalam film ini
yaitu permerkosaan Fang Yin.
Setelah itu mendadak film seperti senyap, kehilangan
suasana yang beberapa menit lalu hiruk pikuk, seakan ikut menangisi penderitaan
Fang Yin. Perubahan suasana yang begitu drastis ini benar-benar merupakan
sesuatu yang baru bagi saya sebagai penonton yang tidak terbiasa dengan hal
ini, trauma Fang Yin digambarkan dengan baik dan cukup realistis sehingga
penonton juga ikut merasakan betapa menyakitkannya penderitaan Fang Yin.
Kisah cinta Fang Yin bisa dibilang sarat makna karena
hanya ditunjukkan lewat beberapa adegan-adegan sederhana saja tetapi Fang Yin
sendiri digambarkan kehilangan sangat Albert dan sempat iri/cemburu kepada Rina.
Film ini menyadarkan kita, dibalik sebuah peristiwa
bersejarah yang membawa sebuah perubahan besar pada bangsa kita tersimpan
beribu-ribu luka pilu yang masih membekas di hati orang-orang yang
mengalaminya. Fang Yin adalah salah satu dari para korban itu, namun masih ada
beribu-ribu korban lain yang merasakan penderitaan dari tragedi 1998, mereka
yang menuntut dan menunggu keadilan yang tak kunjung datang.
Film ini juga mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam
masa lalu, seperti Fang Yin, seseorang yang pernah dikecewakan namun tetap setia
dan rindu untuk pulang kembali ke tanah air. Hal ini sangat menyentuh,
mengingat toleransi tinggi dan keterbukaan pikiran seseorang untuk menerima apa
yang terjadi dan memulai sesuatu yang baru.
Menurut saya film ini adalah salah satu film yang patut
untuk ditonton. Film ini banyak mengangkat nilai-nilai dan moral bangsa
Indonesia yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk membuang jauh-jauh
diskriminasi di Indonesia. Sebuah pengingat akan masa lalu kelam bangsa kita
yang mempunyai dua sisi bertolak belakang.
No comments:
Post a Comment