KEAJAIBAN
SEULAS SENYUM
Kisah
ini kualami sendiri tepat 10 tahun yang lalu, saat aku kelas 3 SD. Walaupun
sudah berlangsung lama, kejadian itu tetap membekas di hatiku. Saat itu bulan
Ramadhan dan aku sedang menunggu kepulangan Ibu yang pergi dari sore hari. Hari
sudah menjelang maghrib dan Ibuku belum juga pulang. Bibi yang membantu urusan
rumah tangga sudah berkali-kali mengingatkanku untuk berbuka puasa namun aku
tak mau meminum seteguk airpun sebelum Ibu pulang.
Aku
akhirnya menyerah setelah rasa dahaga menguasaiku, dengan mengucap do’a aku
perlahan meneguk air teh yang sudah disediakan sebelumnya oleh Bibi. Tiba-tiba
datanglah Bude (Bahasa Jawa kakak dari Ibu) yang mengabarkan bahwa Ibu pingsan
ditempat praktek dokter sebelum beliau sempat diperiksa, dokter yang kewalahan
langsung memanggil ambulans dan kami membawa Ibu ke rumah sakit terdekat (berkisar
45 menit dari tempat tinggalku). Disepanjang jalan aku menangis melihat kondisi
Ibu yang sangat lemah.
Ibuku
langsung dibawa ke UGD karena kondisinya yang sudah gawat, setelah beberapa
lama dokter bilang bahwa Ibuku harus dirawat di ICU. Setelah Ibu dibawa ke
ruang ICU, para anggota keluarga bergantian masuk ruang ICU, namun aku sendiri
belum diperbolehkan karena masih kecil. Saat itu aku hanya anak kecil yang tak
tahu apa yang harus dilakukan. Yang aku tahu sekarang Ibu sedang kesakitan
disana, diatas ranjang dibalik kaca ini. Aku hanya bisa memandang Ibu dari
jauh, tubuhnya terbujur lemas diatas kasur, aku ingin menangis lagi tapi aku
tahu itu tak akan mengubah apapun bahkan akan membuat keluargaku yang lain
lebih kerepotan.
Akupun
menerima jika dirumah sakit ini tidak ada ruangan untuk istirahat bagi para
pasien yang berada di ICU sehingga kami harus tidur diatas tikar didepan ruang
ICU. Udara malam begitu dingin menerpa tubuhku tapi aku tahu Ibu jauh lebih
menderita daripada aku sekarang jadi aku tak banyak berkomentar, kutarik kain
tipis pemberian pamanku yang seharusnya berfungsi sebagai selimut hingga hampir
menutupi tubuhku, dingin tak seberapa asalkan aku dapat menemani Ibu malam ini.
Aku berharap esok Ibu dapat terbangun dan menyapaku dengan senyuman, tanpa
sadar setitik air mata menetes di pipiku. Aku mengucapkan do’a sebelum tidur
dan untuk kesembuhan Ibuku.
Esoknya
menurut dokter yang merawat Ibu, beliau sudah siuman namun masih belum boleh
dipindahkan ke ruang rawat jalan. Aku pun pulang karena harus mengambil baju
ganti Ibu bersama nenek dan Bapak. Setelah itu aku tak boleh ikut lagi ke rumah
sakit karena dianggap akan merepotkan orang-orang disana, untuk sementara waktu
aku tinggal dengan nenek. Aku hanya bisa bertemu dengan Bapak seminggu sekali,
bahkan Ibu sama sekali tak bisa kutemui karena jarak rumah sakit yang jauh.
Beberapa
bulan kemudian Ibu diizinkan untuk pulang namun kondisi Ibu sudah tidak sama
dengan dulu lagi. Menurut Bapak, Ibu terkena stroke sehingga sebagian tubuhnya
tidak dapat digerakkan sama sekali. Beliau tak ubahnya seorang bayi yang baru
lahir, semua harus diurus oleh orang lain. Aku sangat sedih melihat Ibu dalam
kondisi seperti ini. Ibuku bahkan tidak bisa menyebut namaku dengan lancar,
Beliau seperti baru pertama kalinya diajari untuk berbicara. Bahkan aku harus
diperkenalkan sebagai anaknya, seperti kita baru saja bertemu. Setiap malam,
aku selalu menyusun kursi-kursi disamping ranjang Ibu (karena yang beliau
gunakan adalah single bed) agar aku bisa tidur disisi Ibu.
Beberapa
minggu telah berlalu dan tak ada perubahan berarti pada kondisi Ibu, akhirnya
kami membawa Ibu ke tempat pengobatan alternatif yang jauh dari tempat tinggal
kami. Setiap hari sabtu sore aku akan mengunjungi Ibu dan pada hari Minggu sore
aku pulang karena aku harus sekolah. Setelah 6 bulan dirawat, Ibuku menunjukkan
perkembangan berarti. Beliau sudah dapat berjalan sendiri (walaupun kurang
lancar) dan berbicara (belum lancar).
Aku senang sekali, tetapi karena biaya
pengobatan yang mahal akhirnya Ibuku dipulangkan dan Bapak mencoba berbagai tempat
pengobatan alternatif lain. Aku masih ingat sekali, ada banyak tempat dimana
Ibu berobat. Ada suatu tempat yang menggunakan metode silet (kulit pasien
disilet dan dikeluarkan darah kotornya), ada yang menggunakan metode dikerok,
pijat, listrik dan lain-lain.
Namun, tak ada satupun metode yang membuat
perubahan berarti. Akhirnya karena permintaan Ibu sendiri, Bapak berhenti
membawa Ibu ke berbagai tempat pengobatan tradisional. Ibu ingin merawat
anak-anaknya sendiri yang menurut beliau sudah lama tak terurus (aku dan
adikku). Ibu mulai belajar untuk memasak sendiri (walaupun dalam beberapa hal
masih harus dibantu oleh bibi pengurus).
Waktu itu, saat aku baru pulang
sekolah, Ibu dengan bangga menghidangkan sup buatannya sendiri untuk pertama
kalinya setelah beliau sakit dihadapan kami sekeluarga dengan senyuman hangat.
Dan apakah kau tahu? Itu adalah senyuman yang telah lama tak kulihat. Sebuah
keajaiban dunia bagi seorang anak adalah ketika melihat senyum bahagia Ibunya.
Ya, bagiku senyuman bahagia Ibu adalah keajaiban yang jauh melebihi semua
bangunan-bangunan di halaman belakang buku atlas dunia yang bahkan belum pernah
aku lihat satupun secara langsung. Aku telah melihat sendiri suatu keajaiban
nyata dihadapanku saat itu, senyuman Ibu.
Karena aku tahu seberapa besar
perjuangan beliau untuk sekedar membuat sepanci sup hangat untuk makan siang
kami. Karena aku paham seberapa besar harapan dan kasih sayang Ibu yang
tertuang dalam sepanci sup untuk keluarganya ini. Untuk seseorang yang biasa
menggunakan tangan kanan, sangat sulit tentunya bagi Ibu yang sekarang harus
bergantung kepada tangan kirinya untuk membuat sup hanya karena ganasnya
penyakit. Jujur akupun tak tahu bagaimana cara beliau membuatnya (karena Bibi
pengurus tak datang pada hari itu), kurasa hanya Ibu dan Tuhan yang tahu
(karena semua orang baru pulang, akulah yang pertama datang dan langsung
membantu Ibu membawakan sup yang baru matang dari atas kompor ke meja makan).
Bila kau tanya padaku apa aku suka
pada tokoh superhero, aku jawab iya,
karena aku telah melihat sendiri kemampuan seorang wonder woman, yaitu Ibuku. Dan
hingga sekarang Ibu selalu menyambutku dengan keajaibannya setiap aku pulang
yaitu seulas senyum tulus dari dalam hatinya. I LOVE YOU IBU ^-^
N.B: Ini adalah tulisan pengalaman nyata saya yang pertama. Semoga dapat menginspirasi dan memberi hikmah para pembaca sekalian.
No comments:
Post a Comment