Thursday, 26 December 2013

STORY


KEAJAIBAN SEULAS SENYUM

Kisah ini kualami sendiri tepat 10 tahun yang lalu, saat aku kelas 3 SD. Walaupun sudah berlangsung lama, kejadian itu tetap membekas di hatiku. Saat itu bulan Ramadhan dan aku sedang menunggu kepulangan Ibu yang pergi dari sore hari. Hari sudah menjelang maghrib dan Ibuku belum juga pulang. Bibi yang membantu urusan rumah tangga sudah berkali-kali mengingatkanku untuk berbuka puasa namun aku tak mau meminum seteguk airpun sebelum Ibu pulang.
Aku akhirnya menyerah setelah rasa dahaga menguasaiku, dengan mengucap do’a aku perlahan meneguk air teh yang sudah disediakan sebelumnya oleh Bibi. Tiba-tiba datanglah Bude (Bahasa Jawa kakak dari Ibu) yang mengabarkan bahwa Ibu pingsan ditempat praktek dokter sebelum beliau sempat diperiksa, dokter yang kewalahan langsung memanggil ambulans dan kami membawa Ibu ke rumah sakit terdekat (berkisar 45 menit dari tempat tinggalku). Disepanjang jalan aku menangis melihat kondisi Ibu yang sangat lemah.
Ibuku langsung dibawa ke UGD karena kondisinya yang sudah gawat, setelah beberapa lama dokter bilang bahwa Ibuku harus dirawat di ICU. Setelah Ibu dibawa ke ruang ICU, para anggota keluarga bergantian masuk ruang ICU, namun aku sendiri belum diperbolehkan karena masih kecil. Saat itu aku hanya anak kecil yang tak tahu apa yang harus dilakukan. Yang aku tahu sekarang Ibu sedang kesakitan disana, diatas ranjang dibalik kaca ini. Aku hanya bisa memandang Ibu dari jauh, tubuhnya terbujur lemas diatas kasur, aku ingin menangis lagi tapi aku tahu itu tak akan mengubah apapun bahkan akan membuat keluargaku yang lain lebih kerepotan.
Akupun menerima jika dirumah sakit ini tidak ada ruangan untuk istirahat bagi para pasien yang berada di ICU sehingga kami harus tidur diatas tikar didepan ruang ICU. Udara malam begitu dingin menerpa tubuhku tapi aku tahu Ibu jauh lebih menderita daripada aku sekarang jadi aku tak banyak berkomentar, kutarik kain tipis pemberian pamanku yang seharusnya berfungsi sebagai selimut hingga hampir menutupi tubuhku, dingin tak seberapa asalkan aku dapat menemani Ibu malam ini. Aku berharap esok Ibu dapat terbangun dan menyapaku dengan senyuman, tanpa sadar setitik air mata menetes di pipiku. Aku mengucapkan do’a sebelum tidur dan untuk kesembuhan Ibuku.
Esoknya menurut dokter yang merawat Ibu, beliau sudah siuman namun masih belum boleh dipindahkan ke ruang rawat jalan. Aku pun pulang karena harus mengambil baju ganti Ibu bersama nenek dan Bapak. Setelah itu aku tak boleh ikut lagi ke rumah sakit karena dianggap akan merepotkan orang-orang disana, untuk sementara waktu aku tinggal dengan nenek. Aku hanya bisa bertemu dengan Bapak seminggu sekali, bahkan Ibu sama sekali tak bisa kutemui karena jarak rumah sakit yang jauh.
Beberapa bulan kemudian Ibu diizinkan untuk pulang namun kondisi Ibu sudah tidak sama dengan dulu lagi. Menurut Bapak, Ibu terkena stroke sehingga sebagian tubuhnya tidak dapat digerakkan sama sekali. Beliau tak ubahnya seorang bayi yang baru lahir, semua harus diurus oleh orang lain. Aku sangat sedih melihat Ibu dalam kondisi seperti ini. Ibuku bahkan tidak bisa menyebut namaku dengan lancar, Beliau seperti baru pertama kalinya diajari untuk berbicara. Bahkan aku harus diperkenalkan sebagai anaknya, seperti kita baru saja bertemu. Setiap malam, aku selalu menyusun kursi-kursi disamping ranjang Ibu (karena yang beliau gunakan adalah single bed) agar aku bisa tidur disisi Ibu.
Beberapa minggu telah berlalu dan tak ada perubahan berarti pada kondisi Ibu, akhirnya kami membawa Ibu ke tempat pengobatan alternatif yang jauh dari tempat tinggal kami. Setiap hari sabtu sore aku akan mengunjungi Ibu dan pada hari Minggu sore aku pulang karena aku harus sekolah. Setelah 6 bulan dirawat, Ibuku menunjukkan perkembangan berarti. Beliau sudah dapat berjalan sendiri (walaupun kurang lancar) dan berbicara (belum lancar).
 Aku senang sekali, tetapi karena biaya pengobatan yang mahal akhirnya Ibuku dipulangkan dan Bapak mencoba berbagai tempat pengobatan alternatif lain. Aku masih ingat sekali, ada banyak tempat dimana Ibu berobat. Ada suatu tempat yang menggunakan metode silet (kulit pasien disilet dan dikeluarkan darah kotornya), ada yang menggunakan metode dikerok, pijat, listrik dan lain-lain.
Namun, tak ada satupun metode yang membuat perubahan berarti. Akhirnya karena permintaan Ibu sendiri, Bapak berhenti membawa Ibu ke berbagai tempat pengobatan tradisional. Ibu ingin merawat anak-anaknya sendiri yang menurut beliau sudah lama tak terurus (aku dan adikku). Ibu mulai belajar untuk memasak sendiri (walaupun dalam beberapa hal masih harus dibantu oleh bibi pengurus).
Waktu itu, saat aku baru pulang sekolah, Ibu dengan bangga menghidangkan sup buatannya sendiri untuk pertama kalinya setelah beliau sakit dihadapan kami sekeluarga dengan senyuman hangat. Dan apakah kau tahu? Itu adalah senyuman yang telah lama tak kulihat. Sebuah keajaiban dunia bagi seorang anak adalah ketika melihat senyum bahagia Ibunya. Ya, bagiku senyuman bahagia Ibu adalah keajaiban yang jauh melebihi semua bangunan-bangunan di halaman belakang buku atlas dunia yang bahkan belum pernah aku lihat satupun secara langsung. Aku telah melihat sendiri suatu keajaiban nyata dihadapanku saat itu, senyuman Ibu. 
Karena aku tahu seberapa besar perjuangan beliau untuk sekedar membuat sepanci sup hangat untuk makan siang kami. Karena aku paham seberapa besar harapan dan kasih sayang Ibu yang tertuang dalam sepanci sup untuk keluarganya ini. Untuk seseorang yang biasa menggunakan tangan kanan, sangat sulit tentunya bagi Ibu yang sekarang harus bergantung kepada tangan kirinya untuk membuat sup hanya karena ganasnya penyakit. Jujur akupun tak tahu bagaimana cara beliau membuatnya (karena Bibi pengurus tak datang pada hari itu), kurasa hanya Ibu dan Tuhan yang tahu (karena semua orang baru pulang, akulah yang pertama datang dan langsung membantu Ibu membawakan sup yang baru matang dari atas kompor ke meja makan).
Bila kau tanya padaku apa aku suka pada tokoh superhero, aku jawab  iya, karena aku telah melihat sendiri kemampuan seorang wonder woman, yaitu Ibuku. Dan hingga sekarang Ibu selalu menyambutku dengan keajaibannya setiap aku pulang yaitu seulas senyum tulus dari dalam hatinya. I LOVE YOU IBU ^-^

N.B: Ini adalah tulisan pengalaman nyata saya yang pertama. Semoga dapat menginspirasi dan memberi hikmah para pembaca sekalian.


No comments:

Post a Comment