THE CONJURIG
(dr catatan seorang temen gokil)
(dr catatan seorang temen gokil)
Cerita ini bermula ketika Bu Ani dan keluarganya pindah ke rumah baru mereka di daerah Kampung Kebon Gerenuk. Rumah baru mereka sebenarnya bukan rumah baru, tapi rumah bekas. Pak Bambang dapat
rumah itu dari lelang yang diadakan Bank Mandijunub.
"Gue mau kamar yang paling gede ya, sist," celetuk Nabilah ketika baru menginjakkan kaki di rumah tua tersebut.
"Kagak bisa gitu, cuy. Lu tuh paling bontot di sini. Jangan kegeeran lu, serbet warteg. Lu gak dapet kamar. Lu tidur di loteng," ucap Melody, anak sulung di keluarga itu.
"Wah, berarti gue dapet kamar dong? Gue kan anak kedua," tanya Sonya kegirangan. "AHAY!"
"Heh, jangan banyak cingcong lu,
bocah-bocah! Siapa bilang kalian dapet kamar satu-satu? Kagak! Kalian tidurnya berduapuluhempat satu kamar!
Mampus dah tuh desek-desekan kayak ikan teri!" bentak Bu Ani kepada anak- anaknya yang kesemuanya berkelamin wanita.
"Yah, mama kejam amat!" Keluh
Nabilah memasang wajah merengut.
"Tau nih mama kayak gak punya ati.
Apa hati mama terbuat dari batu?
Setega itukah mama memperlakukan
kami seperti anak hamster?" protes
Melody kritis.
"Sebodo amat! Gue bukan emak lo ini!
Gue cuma agen lo ya. Inget!" Bu Ani
menghiraukan anak-anak perawannya
yang merajuk manja.
***
Di malam pertama keluarga Pak
Bambang tinggal di rumah itu, mereka
mendapatkan gangguan-gangguan.
Contohnya, sewaktu Melody tidur, ada
yang narik-narik kakinya. Contoh
lainnya, sewaktu Nabilah buang aer,
tiba-tiba lampu WC mati dan kerannya
gak idup. Terpaksa Nabilah istinja
pake batu gacoan dampu. Nabilah
istinja sambil menangis. Contoh
lainnya lagi, sewaktu Sonya masak
mie instan, tiba-tiba gasnya abis.
Ketika Sonya mau beli, warungnya
tutup semua. Ketika warungnya buka,
stok gas elpijinya kosong. Ketika stok
gas elpijinya ada, yang punya
warungnya meninggal dunia. Sewaktu
Sonya makan mie instan mentah
diremukin, tiba-tiba kompornya nyala
sendiri dengan api berkobar-kobar.
"Kampret!" Itulah kata yang bisa
diucapkan Sonya.
Pernah di suatu malam yang sunyi-
sepi, Bu Ani dan Pak Bambang
dikagetkan dengan teriakan Melody. Bu
Ani langsung melesat ke kamar gadis.
"Mama! Sonya tidur sambil jalan," adu
Melody. "Lihat itu!"
Terlihat Sonya jalan meniti tali
jemuran kayak pemain sirkus.
"Mama! Ada yang lebih parah! Nabilah
tidur sambil lomba pidato," kata Beby
wadul.
Mendengar kabar itu, Bu Ani panik.
"Ayo, anak-anak. Kita cari Nabilah!"
Pak Bambang kalang-kabut.
Anak-anak gadisnya langsung bawa
obor masing-masing dan menyusuri
hutan terlarang, mencari Nabilah.
Besoknya, Nabilah ditemukan tertidur
di atas mimbar depan kantor
kecamatan, dengan memegang tropi
juara lomba pidato tingkat pelajar.
***
"Sepertinya rumah kita berhantu, Pak."
"Bisa jadi! Bisa jadi!"
"Tiap malam kita digangguin mulu."
"Iya! Iya!"
"Gimana kalo kita pindah aja ke Pantai
Indah Kapuk?"
"TIDAK! TIDAK! TIDAAAAAAAAK!"
Bu Ani melotot. Pak Bambang
tersenyum kecut.
"Napa?" tanya Bu Ani judes.
"Bapak gak punya uang. Uangnya abis
buat beli rumah ini," kata Pak
Bambang.
"Ya udah kalo gitu, kita panggil ustadz
aja," usul Bu Ani.
"Buat apa?"
"Mungkin kita digangguin hantu karena
rumah kita belum diyasinin," kata Bu
Ani.
"Oke, Bapak coba kontek temen STM
Bapak yang sekarang jadi ustadz.".
***
Ustadz yang dikontak Pak Bambang
pun datang ke rumah terkutuk itu.
"Perkenalkan nama saya Ustadz
Sompret. Selain ceramah, saya juga
bisa main sinetron dan ngusir hantu."
"Ya tolong kami, pak ustadz," pinta Bu
Ani. "Usirin hantu-hantu yang ada di
rumah ini. Biar anak-anak saya gak
digangguin lagi. Kasian, mereka masih
perawan."
"Tenang. Saya bakal bantu ibu dan
keluarga ibu semampu saya." Kata
Ustadz Sompret. "Tapi sebelum itu,
mari kita deal-deal-an mengenai tarif
atas jasa pengusiran hantu ini. Ibu
mau ambil paket apa? Ada paket kilat,
ada paket reguler."
"Paket hemat aja. Ada, pak?"
"Oh, ada, ada. Jadi, segini harga yang
harus ibu bayar." Ustadz Sompret
menyebutkan angka sekian juta.
"Deal?"
"Buset. Mahal amat!" pekik Bu Ani.
"Tenang, bisa dicicil tiga kali
angsuran," kata Ustadz Sompret.
"Oke deh. Deal."
Lalu Ustadz Sompret melakukan acara
pengusiran. Hantu-hantu pun pada
berimigrasi ke pohon beringin terdekat.
Setelah dibantu Ustadz Sompret,
keluarga Pak Bambang bisa tidur
dengan nyenyak. Gak ada lagi yang
narik-narik kaki Melody. Nabilah bisa
buang aer sambil tersenyum. Sonya
bisa rebus mie instan sampai mie-nya
gembur dan jadi bubur mie.
Tapi kebahagiaan itu hanya bertahan
semalam. Besok malemnya mulai lagi
hantu-hantu itu berulah. Keluarga Pak
Bambang tidak bisa tidur dengan
nyenyak. Tiap tidur, kaki Melody
ditarik-tarik. Nabilah istinja pake gaco
dampu lagi. Sonya kembali makan mie
instan diremukin, sampe ususnya
mengkerut.
Pak Bambang pun komplain ke Ustadz
Sompret. "Gimana ini? Keluarga saya
digangguin setan lagi? Gak becus lu
ngusir setannya."
"Lho? Salah sendiri! Suruh siapa
ngambilnya paket hemat? Paket hemat
itu ibarat nyalain obat nyamuk bakar.
Cuma bertahan satu malem doang,"
tutur Ustadz Sompret di seberang sana.
"Sompret lu!" Maki Pak Bambang.
"Emang nama gue Sompret. Problem?"
SUMBER: Haris Firmansyah (Friend of Yulia Chaniago, member of KKI)
No comments:
Post a Comment